RSS

Ayat al-Qur'an Tentang Perilaku Dermawan

Memahami ayat al-Qur’an tentang prilaku dermawan
Standar kompetensi
- Memahami ayat al-Qur’an tentang prilaku dermawan
Kompetensi Dasar
- Menjelaskan tentang ayat al-Qur’an tentang prilaku dermawan
- Menunjukkan sikap dan prilaku dermawan
Ringkasan Materi
A. QS. Al-Isra’: 26 – 27
1. Terjemahan
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
2. Penjelasan
Orang yang beriman mempunyai kewajiban kepada kerabatnya, yaitu memberikan hak mereka. Kerabat adalah keluarga, yaitu yang mempunyai hubungan darah dengan kita, baik hubungan darah dekat maupun jauh. Mereka mempunyai hak kepada keluarganya, salah satunya yaitu bantuan materi. Bila salah satu dari mereka ada yang kekurangan harus dibantu. Mereka harus didahulukan daripada yang lain. Setelah itu barulah perhatian ditujukan kepada yang lain, terutama orang miskin. Orang miskin adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya. Kebutuhan primer adalah kebutuhan dasar seperti makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan.
Ibnu sabil adalah orang yang terlantar dalam perjalanan. Mereka juga perlu dibantu supaya dapat kembali ke tempat asalnya dan dapat memenuhi kebutuhan hidup seperti biasanya. Bila tidak dibantu mereka dapat menimbulkan masalah sosial, seperti pencurian, gelandangan, pengangguran dan sebagainya. Anak-anak terlantar atau orang-orang gelandangan termasuk ibnu sabil.
Mubadzir maksudnya adalah sebagai berikut:
a. Mengeluarkan pengeluaran lebih dari yang diperlukan. Misalnya membeli makanan lebih dari kebutuhan, yang mengakibatkan makanan menjadi busuk dan terbuang.
b. Mengeluarkan pengeluaran untuk sesuatu yang tidak diperlukan. Misalnya membeli pulpen dua buah padahal yang diperlukan hanya satu.
c. Mengeluarkan pengeluaran untuk sesuatu yang tidak dibenarkan agama, misalkan judi. Akan tetapi membelanjakan kekayaan untuk tujuan yang dibenarkan agama, berapapun besarnya maka hal itu tidak termasuk mubazir.
Kehidupan manusia di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat. Untuk dapat hidup bahagia di akhirat yang diperlukan bukanlah kekayaan melainkan pahala. Orang yang membelanjakan kekayaannya di jalan Allah, berarti telah menabung untuk pahala di akhirat kelak.
Orang yang berbuat mubadzir digolongkan Allah sebagai teman-teman syetan. Artinya, perbuatan mubadzir adalah kebiasaan syetan. Orang yang berbuat mubadzir berarti telah ikut melakukan perbuatan yang telah dilakukan syetan.
Syetan ingkar kepada Allah karena ia sombong dan mengikuti hawa nafsunya. Orang yang berbuat mubadzir adalah teman syetan. Perbuatannya dilakukan karena sombong dan hawa nafsunya, bukan karena ikhlas. Syetan akan dihukum oleh Allah nanti di akhirat karena kesombongan, nafsu dan perbuatan mubadzirnya. Orang yang berbuat mubadzir juga akan bersama-sama syetan menerima siksaan dari Allah di neraka.
Membantu yang paling diutamakan adalah membantu kerabat dan keluarga, sebagaimana rasululloh SAW bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّدَقَةُ عَلَى المِسْكِيْنَ صَدَقَةٌ وَهِيَ ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ (رواه الترمذي) فَهُمْ اَلَى بِكَ وَبِبِرِّكَ وَبِاِعْطَائِكَ
Artinya: “Rasululloh SAW bersabda, “Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah, dan kepada kerabat ada dua (manfaatnya) sebagai sedekah dan menyambung (kasih sayang)” (HR. Tirmidzi) karena mereka lebih utama bagi (perhatian)mu, kebajikanmu, dan pemberianmu.
Jelaslah bersedekah kepada orang miskin itu penting, tetapi kepada keluarga lebih penting lagi. Fungsi sedekah kepada fakir miskin adalah sedekah, tetapi sedekah kepada kerabat berfungsi dua, sebagai sedekah dan dapat mengokohkan silaturahim. Keluarga juga tidak hanya membutuhkanperhatian materi, mereka juga membutuhkan perhatian yang bersifat immateri seperti kasih sayang, nasihat, arahan dan sebagainya.
B. QS. Al-Isra’: 29 – 30
1. Terjemahan
29. Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
30. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.
[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.
2. Penjelasan
Ayat 29 surah al-Isra’ di atas menjelaskan tentang bagaimana cara yang tepat dalam menggunakan atau mengelola harta yang dimiliki. Ayat tersebut diawali dengan larangan memebelenggukan tangan ke leher. Maksud ungkapan “Membelenggukan tangan ke leher” adalah pelit atau kikir. Jadi jelas ayat tersebut diawali dengan larangan untuk berbuat pelit atau kikir.
Perlu disadari bahwa harta yang kita miliki adalah nikmat dari Allah. Sebagai nikmat, harta tersebut harus kita syukuri dengan cara menafkahkan sebahagiaannya untuk kepentingan agama dan sosial, seperti memberikan sumbangan pembangunan masjid, sarana pendidikan, santunan fakir miskin dan sebagainya. Selain itu harta juga merupakan amanat, oleh karena itu kita harus mengurusinya dengan benar, antara lain dengan tidak berlaku boros.
Di dalam ayat 29 surah al-Isra’, Allah juga melarang membentangkan tangan dengan selebar-lebarnya. Maksud ungkapan “Membentangkan tangan selebar-lebarnya” adalah boros. Jadi pada ayat tersebut Allah, melarang kita untuk berbuat kikir sekaligus melarang untuk berbuat boros. Sebab kedua sifat tersebut merupakan sifat tercela yang bisa mendatangkan keburukan.
a. Akibat orang yang boros
Akibat orang yang boros, ia akan duduk menjadi tercela dan diliputi penyesalan. Orang yang boros akan terduduk dan tidak berguna lagi dan tidak bisa melakukan apa-apa sebab hartanya telah habis. Sehingga dia menjadi tercela dan tidak dihargai oleh orang lain dan akhirnya ia pun menyesal karena telah terlanjur menghambur-hamburkan hartanya. Ia baru menyadari jikalau keperluannya masih banyak sedang dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pada saat itulah dia akan merasakan penyesalan yang luar biasa.
b. Akibat orang yang kikir
Di dalam surah Ali-Imran ayat 180, Allah SWT menerangkan akibat yang akan ditanggung oleh orang yang kikir, yaitu harta yang ia bakhirkan akan dikalungkan kelak di akhirat, Allah berfirman:
Artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali-Imran: 180)
Allah menegaskan bahwa kekayaan yang sengaja ditimbun oleh orang-orang kikir serta tidak mereka keluarkan zakat dan sedekahnya, maka kekayaannya itu akan dikalungkan ke leher-leher mereka di hari akhirat. Mereka akan memanggul kekayaan itu sehingga mereka akan tertatih-tatih dan tidak mampu bergerak dengan cepat untuk menghadap Allah di padang mahsyar, padahal setiap orang pada waktu itu ingin segera menghadap-Nya untuk memperoleh karunia-Nya yang berupa syurga.
Di dalam sebuah riwayat bahkan digambarkan bahwa kekayaan itu akan berubah menjadi ular yang selalu memagut mereka sepanjang perjalanan ke padang mahsyar. Dengan tertatih-tatih berarti mereka juga dipermalukan sebagai orang yang tidak mau membayar zakat dan tidak mau sedekah sewaktu hidup di dunia. Bahkan kekayaannya di neraka akan mencekik mereka sehingga menambah siksaan bagi mereka.
Perlu kita ketahui pula, bahwa di dalam ayat 29 surah al-Isra’ Allah melarang kikir dan boros, berarti ayat ini menghendaki sikap tengah-tengah. Sikap tersebut adalah sikap dermawan. Jadi sikap dermawan adalah sikap di antara kikir dan boros.
Allah SWT melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Semuanya berfungsi sebagai ujian. Sanggupkah yang kaya untuk tidak berbuat kikir dan tiddak berbuat boros menggunakan kekayaan yang dimilikinya? Sanggupkah yang disempitkan rezekinya (orang miskin) bersabar, kemudian mau berusaha keras dan tidak berputus asa? Apa yang diberikan oleh Allah SWT, itulah yang terbaik bagi mahluk-Nya. Karena Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti terhadap kondisi segala mahluk-Nya.
Namun perlu pula diingat bahwa ada kemiskinan diberikan Allah SWT sebagai hukuman kepada manusia. Hal itu antara lain dikarenakan mereka tidak mau mengingat Allah dalam hidup mereka. Firman Allah SWT dalam surah Taha ayat 124 menggambarkan hal itu:
Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment

MONGGO KOMENTARIPUN, KANGMAS LAN MBAK AYU

Fish