RSS

Hadis Nabi Tentang Cinta Allah dan Rosul-Nya


Memahami hadis tentang cinta kepada Allah dan rasul
Standar kompetensi
- Memahami hadis tentang cinta kepada Allah dan rasul
Kompetensi dasar
- Menjelaskan hadis tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
- Menunjukkan sikap cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Ringkasan Materi
A. Hadis tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
1. Lafal hadis
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِي قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَّكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُّحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَّكْرِهَ أَنْ يَّعُوْدَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُّقْذَفَ فِي النَّارِ) (رواه البخاري)
2. Arti mufrodat
حَدَّثَنَا ثَلاَثٌ وَجَدَ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ أَحَبُّ
الْمَرْءَ يَّكْرِهَ أَنْ يَّعُوْدَ فِي الكُفْرِ أَنْ يُّقْذَفَ

3. Terjemahan
“Dari Anas r.a. dari Nabi saw. Bersabda: “ Barang siapa ada tiga perkara padanya, ia telah mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya dari apa yang selain keduanya, hendaklah ia mencintai dan membenci seseorang semata karena Allah, dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia benci jika akan dicampakkan ke dalam neraka”. (H.R. Bukhari Muslim)
4. Penjelasan
Hadits di atas memberikan pengertian bahwa seseorang yang dapat melakukan tiga perkara tersebut akan dapat merasakan manisnya iman, yaitu akan selalu mengerjakan ibadah dengan ikhlas. Hal ini disebabkan karena ia menyadari bahwa ibadah yang dikerjakan adalah untuk kepentingan dirinya sendiri.
Adapun tiga perkara yang menjadikan seseorang dapat merasakan manisnya iman, antara lain :
a. Mencintai Allah dan Rasul – Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya.
b. Mencintai dan membenci seseorang tidak lain karena Allah SWT.
c. Membenci melakukan kekufuran setelah dirinya beriman.
Mencintai Allah dan Rasul Melebihi Cinta kepada Selain Keduanya. Mencintai Allah dan Rasul melebihi cinta kepada selain keduanya, maksudnya adalah cinta kita kepada Allah dan Rasul- Nya harus di atas segala- galanya. Kita harus menomor satukan cinta kita kepada Allah dan Rasul- Nya, yaitu dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan keduanya. Hal itu bukan berarti kita tidak boleh mencintai yang lainnya, karena kecintaan yang ada di dunia ini tidak akan kekal, mungkin yang kita cintai lebih dahulu meninggalkan kita atau sebaliknya.
Allah dan Rasul- Nya mencintai kita selama kita mencintai keduanya. Sehubungan dengan hal tersebut, pernah suatu ketika Malaikat Jibril memberikan pelajaran kepada Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim yang artinya:
“Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya“. (H.R. Hakim)
Hadits tersebut memberikan pelajaran bahwa semua yang ada di dunia adalah fana’(rusak). Padahal kita yakin bahwa ada kehidupan setelah hidup di dunia ini. Dunia adalah sarana untuk mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Dunia adalah sawah ladang akhirat “. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kehidupan di akhirat yang menyenangkan, kita wajib mencintai Allah dan Rasul yaitu dengan meletakkan kepentingan Allah dan Rasul – Nya di atas segala – segalanya.
Mencintai atau membenci Seseorang karena Allah. Kita mencintai atau membenci seseorang bukan berdasarkan kepentingan dunia. Kecintaan atau kebencian kepada seseorang seharusnya berdasarkan syariat atau aturan Allah. Jadi sebaiknya kita mencintai seseorang itu, karena dia suka menjalankan atau menaati perintah Allah SWT. Kita membenci seseorang karena ia suka melakukan kemaksiatan.
Orang yang mendasarkan kecintaannya kepada seseorang karena Allah SWT, berarti ia adalah orang yang sempurna imannya. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah. Maka ia sesungguhnya telah memperoleh kesempurnaan iman.”
Membenci Melakukan Kekufuran Setelah Dirinya Beriman. Kenikmatan beriman dirasakan oleh orang yang benci dan takut terjerumus ke dalam kekafiran, sebagaimana benci dan takutnya jika ia dimasukkan ke dalam neraka. Orang yang besikap seperti ini akan selalu berhati-hati dalam sikap dan langkah yang diambil. Ia mempertimbangkan apakah sesuatu itu halal atau haram, bemanfaat atau membawa mudarat, boleh atau tidak menurut agama.
Kecintaan yang berdasarkan nafsu akan mengakibatkan cinta buta. Hal itu dapat menyebabkan terjadinya syirik meskipun syirik kecil. Berkaitan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut:
“Syirik itu lebih halus dari perjalanan semut yang halus di atas batu licin, di malam gelap gulita dan serendah-rendahnya syirik adalah engkau mencintai seseorang karena kekurangannya dan membenci seseorang karena ke adilannya. Bukanlah agama itu, kecuali cinta dan benci”.
Benci terhadap kekufuran seperti bencinya kita dicampakkan ke dalam neraka. Maksudnya, setelah mengaku dan bersedia melakukan peribadatan kepada Allah SWT, sebagai konsekuensi keimanan kita harus berusaha menjauhi segala bentuk kekafiran yang dapat menjerumuskan kita ke dalam neraka.
Orang yang melakukan kekufuran setelah beriman ,mendapat ancaman keras dari Allah SWT berupa neraka. Hal itu disebuntukan dalam surat Al- Imran ayat 106,yang artinya:
“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang – orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena itu rasakanlah azab yang disebabkan ke kafiranmu itu”.
B. Perilaku yang menunjukkan cinta kepada Allah dan Rosul
Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara karena Allah.
1. Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)
Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. saudara fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslim lain, baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal, kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian? Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslim.
2. Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat
Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslim.
3. Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu
Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillah bila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insya Allah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput kamu di rumah.”
4. Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan
Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.
5. Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka
Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.
saudara, berbaik sangkalah kepada saudaramu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita.
Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudara, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?.
C. Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar!
Saudara sekalian, semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.
a. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)
b. “Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.”
c. Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjuntukan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebuntukan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)
d. “Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.”) Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment

MONGGO KOMENTARIPUN, KANGMAS LAN MBAK AYU

Fish